ASMARA REMAJA

 10 Pertimbangan Remaja Cerdas Sebelum Jadian

Mengawali hubungan asmara, atau dalam bahasa kekiniannya jadian, terlebih lagi untuk pengalaman pertama, adalah saat-saat yang tak ada stok kata-katanya dalam bahasa manapun di seluruh dunia. Tak bakal terlukiskan oleh penyair sejak zaman Babylonia sampai abad informasi digital kini. Mungkin, beberapa tahun lagi sudah ada yang bisa. Who knows.


Mengapa saya bilang begitu? Ya, karena saya sudah cukup berumur, dan pernah menjadi remaja seperti kalian. Juga, dua dari tiga anak saya sudah remaja.

Oh, ya,  sampai lupa. Ini artikel pertama dalam blog ini. Tangan saya tergerak untuk membuat blog ini karena dalam kurun waktu sekitar tujuh tahun terakhir, saya “terjerumus” pada keasyikan belajar tentang psikologi (khususnya yang terkait dengan pendidikan) secara mandiri.

Ya, saya katakan “terjerumus”, karena sejujurnya saya bukan termasuk spesies kutu buku. Tapi, pekerjaan saya sebagai penulis memaksa saya menyukai buku-buku psikologi. Jadi, harap dicatat, saya bukan ahli dalam bidang itu.

Dari  kesibukan menjadi penulis itulah saya kerap mendapatkan pengetahuan yang rasa-rasanya layak buat jadi bahan diskusi bersama para remaja seperti kalian. Yang bisa saya lakukan hanya mencoba menyajikan pengetahuan itu secara sederhana.

Saya pernah sebentar, hanya sekitar 16 tahun menjadi wartawan. Kamu tahu, kan, salah satu tugas wartawan itu kira-kira “how to journalize philosophy”, maksud saya, bagaimana menyajikan pengetahuan atau informasi yang rumit-rumit agar bisa dinikmati pembaca awam.


OK, cukup segitu, ya perkenalannya. Kita langsung mulai saja.

Foto: FIXABAY





Artikel ini sebetulnya buat kalian yang belum jadian. Tapi, bagus juga, sih, kalau kalian yang sudah jadian ikut baca. Kalau pemahamannya setara dan bisa nyambung berdiskusi, kan berarti ada peluang hubungan kalian menjadi berkualitas. Nyambung berdiskusi itu tidak sama dengan selalu cocok, satu selera, tak pernah cekcok, dan sejenisnya. (Nanti saya akan bahas tema perbedaan ini secara khusus).

Sengaja saya tulis 10 prinsip ini dalam bahasa Inggris, buat provokasi supaya kalian nanti suka mencari dan baca buku berbahasa Inggris. Sekurang-kurangnya, ada satu dua prinsip yang bisa kalian hafal dalam bahasa Inggris. Jadi, saat berdiskusi dengan teman, kamu bisa menggunakannya untuk bergaya. Tak perlu khawatir, semua penjelasannya tetap dalam bahasa Indonesia. Sudah siap?


10 Prinsip Asmara Remaja Rasional


#1

No shortcut way into a relationship worths your bright future.



Tidak ada jalan pintas menuju sebuah hubungan yang nilainya setara masa depan cemerlang kamu. Berarti, masa depan kamu yang cemerlang itu tidak bisa disejajarkan dengan apapun yang namanya jalan pintas. Apalagi dinomorduakan, dikompromikan atau dikalahkan.



Masa depan cemerlang yang mana? Mau nanya begitu, kan? Ngaku aja. Ya, selama kamu masuk klasifikasi remaja, maka masa depan yang cemerlang adalah milik kamu. Nanti di prinsip-prinsip berikutnya akan tergambar.

Pertanyaan selanjutnya, apa maksudnya jalan pintas? Gampangnya begini, deh, saat kalian membuat keputusan untuk jadian disertai rasa takut atau khawatir, bahwa ‘kalau tidak jadian sama dia, saya rugi,’ nah itu tanda pertama jalan pintas.

Tanda kedua, kalau kata pilang saham, keputusan dengan rasa takut seperti itu pasti punya embel-embel cutloss, alias jual rugi karena takut akan kerugian yang lebih besar. Akibatnya, kamu selalu dalam posisi pasif alias mengalah terus saat membuat keputusan untuk kepentingan bersama.

Tanda ketiga, yang paling mengkhawatirkan, adalah saat kamu mengkompromikan prinsip yang kalian yakini demi hubungan dalam posisi cutloss. Apapun dasar prinsip kamu, entah itu agama, norma sosial, adat istiadat, aliran kepercayaan.... you name it.... prinsip adalah prinsip yang akan menegakkan martabat hidup kamu selamanya. Jika tergadai, tidak tegak lagi martabatmu.

Silakan kamu mulai mereka-reka sendiri, mana yang bukan jalan pintas.


#2

The bright future has nothing to do with today’s relationship.

Masa depan yang cemerlang tidak ada hubungannya dengan hubungan saat ini. Ingat, ya, tidak ada hubungannya, berarti terpisah. Jika kamu sudah menjalin suatu hubungan khusus, maka hal yang  berhubungan dengan cemerlangnya masa depan kamu bukanlah si dia, tapi apa hasil belajar yang bernilai yang bisa kamu dapatkan dari hubungan kalian. Sebab, penentu kecemerlangan masa depan kamu adalah kualitas belajar kamu.

Apa saja yang bisa kamu pelajari atau kamu dapatkan? Banyak, asal kamu  berpegang teguh pada prinsip-prinsip dalam tulisan ini. Pertama, kamu belajar tentang bagaimana memperluas sudut pandang kamu sendiri dari perbedaan-perbedaan antara kamu dan si dia.  Kalau selalu cocok, hanya ada dua kemungkinan. Kalau bukan kamu mengalah saat tidak seharusnya mengalah, berarti kamunya masih belum mentas dari fase egois bin egosentris seperti toddler. (Kalau belum tahu arti toddler, silakan tanya google translate).

Kedua, kamu berlatih bernegosiasi secara  bermartabat. Keterampilan bernegosiasi sepertinya tidak ada matapelajarannya di sekolah. Tapi, ini termasuk salah satu keterampilan yang sangat berharga ketika memasuki dunia kerja. Kalau dalam istilah Howard Gardner, sang pencetus teori Kecerdasan Jamak, keterampilan bernegosiasi adalah wujud dari kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasakan linguistik, dan kecerdasan logik-matematik sekaligus. (Kapan-kapan saya bahas juga tentang Kecerdasan Jamak).

Ketiga, tentu saja, kamu belajar kemahiran yang tidak kamu punyai tapi dia punya. Kalau dia tidak punya, ya untuk apa menjalin hubungan? Simple, kan? Kok, urusannya jadi belajar melulu? Kapan bersenang-senangnya? Lha, iya, ini bersenang-senangnya, terkait dengan prinsip berikutnya di bawah ini (nomor 3). 

Kalian sedang dalam masa pancaroba yang perubahan-perubahannya sangat pesat. Semakin mendekati akhir masa remaja, semakin cepat perubahan-perubahan yang kalian alami dan hadapi. Baik dari segi fisik yang tak terasa dan terasa, maupun segi mental emosional dan kognitif. Pada masa inilah begitu banyak hal berharga dan selalu menarik untuk dipelajari. Dan, jangan lupa, semua pembelajaran yang ini tidak pakai PR, UTS, UAS, apalagi Ujian Nasional! 

#3

Adolescent years move unbelievably faster than light.

 Tahun-tahun remaja bergerak luar biasa lebih cepat melebihi kecepatan cahaya. Ya, pergerakan tahun-tahun remaja begitu cepat, sehingga dalam kasus ekstrem, hanya butuh satu kelengahan sekejap mata, kamu bisa sampai pada ujung yang tak terbayangkan. Kelar!

OK, tidak semuanya dalam arti yang negatif. Kecepatan gerak tahun-tahun remaja juga bersifat krusial dalam arti positif. Inilah masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Satu demi satu dalam kecepatan tinggi, kamu mencapai kemampuan melakukan sesuatu (baik secara fisik maupun mental), yang sebelumnya tidak bisa kamu lakukan saat kanak-kanak. Sehingga, pelan-pelan kamu mencapai apa yang dinamakan kematangan dan kemandirian.
Setiap pencapaian kematangan dan kemandirian memberimu rasa mampu menuntaskan pekerjaan (sense of self-accomplishment) yang maknanya sangat mendasar bagi kamu di masa dewasa nanti. Pada saatnya, menjelang akhir masa remaja, kamu akan mulai mengenali potongan-potongan puzzle jatidirimu.

Sekadar contoh, jika masih sulit mencerna, bayangkanlah hal-hal berikut ini: Kamu berhasil melakukan ekspor perdana produk kreatif yang kamu buat bersama beberapa kawan. Atau, kamu ditelepon seseorang agar datang besok pagi menemui seorang manajer redaksi penerbitan bonafide karena novel pertamamu layak terbit. Atau, sehabis berkutat dengan kerumitan soal-soal UAS, layar gadget menampilkan pesan WA, bahwa desain logoyang kamu kirim ke sebuah lembaga negara ternyata “hanya” terpilih sebagai juara dua tingkat nasional. Atau, keusilan dan keesingan kamu bermain-main desain dan coding Java, ternyata menghasilkan app bernilai lima puluh ribu dolar. Silakan bayangkan lain-lain yang sejenis itu. Pasti banyak.
Di saat-saat seperti itu, nilai uangnya mungkin jauh lebih maknyus dari jatah jajan yang diberi Mama atau Papa. Tapi, nilai yang lebih utama sesungguhnya adalah, tadi, yang dinamakan sense of self-accomplishment dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar latihan biasa. Dan di saat itulah sangat mungkin kamu mengalami pergeseran pandangan yang jauh tentang suatu hubungan, dari yang pernah kamu rasakan saat awal-awal masa remaja. Malah, mungkin kalian sudah mulai bisa berkata, “ternyata cinta tak sedahsyat bayangannya.”
Saya tidak ingin mengibaratkan kalian sebagaimana bayi dalam kandungan yang tak mungkin dapat membayangkan kalau diberitahu ada dunia yang sangat luas di luar perut ibu. Tidak. Bahkan, dalam hal-hal tertentu, saya harus mengakui remaja sekarang memiliki kecepatan daya serap yang jauh lebih bagus ketimbang remaja zaman saya. Misalnya, dalam urusan komputer, gadget dan teknologi informasi. 

Sekarang, nyaris tidak ada pembatas bagi keinginan kalian untuk belajar apa saja. Abad teknologi informasi digital menyediakan semuanya untuk kalian. Ada baiknya, kalau suka baca, kalian telusuri cerita dalam buku yang saya terjemahkan tentang bagaimana kecepatan gerak teknologi dunia saat ini, dan banyak di antara para penggeraknya adalah anak-anak muda belia. Buku itu berjudul “How to Build a Billion Dollar App”. Sepertinya masih di Gramedia.


Foto: DOKUMENTASI PRIBADI


#4

You’re soon going to assume position of a full captain of your own life journey.

Kamu akan segera mengemban posisi sebagai kapten penuh atas perjalanan hidupmu sendiri. Semakin mendekati masa akhir remaja, ketika sense of self-accomplishment terbangun semakin kokoh, kamu semakin tidak canggung untuk berkata, “Ini tanggungjawabku.” Di saat kamu melakukan kesalahan, misalnya, kamu tidak takut untuk mengakuinya karena kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Dan, kesalahan terbesar adalah tidak pernah mau mencoba atau takut mencoba tantangan baru yang akan memberimu keterampilan baru.

Kamu semakin tidak canggung untuk mengambil peran-peran yang berarti dalam lingkungan kehidupanmu, entah itu di kampus, di RT, di organisasi kemasyarakatan, di perusahaan bisnis yang kamu bangun bersama kawan-kawan, atau di mana saja yang membuat kamu merasa enjoy dan berharga.

#5

 Once you are the full captain, you know who you are.

Ketika kamu telah penuh menjadi kapten, kamu sudah tahu siapa dirimu. Ketika semakin banyak tanggungjawab yang berhasil kamu selesaikan dengan baik, dan semakin banyak pengalaman sense of self-accomplishment, kamu semakin mengenali dirimu.

 

Foto: FIXABAY

 

Dalam tahapan belajar, inilah tahap awal dari fase yang oleh para ahli psikologi dinamakan andragogy, yaitu belajar orang dewasa. Pada tahap ini, kamu sudah tahu tujuan, tahu apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu, tahu di mana dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu, dan tahu bagaimana menjalani setiap prosesnya.

Itu artinya, kamu tahu apa saja yang harus dipelajari, ke mana dan kepada siapa harus belajar, dan tidak membutuhkan motivasi eksternal (disuruh-suruh) untuk belajar. Karena kamu sudah punya kemantapan atau determinasi untuk mencapai sebuah tujuan. Kemampuan itu mulai menunjukkan bentuknya, misalnya, kalau ditanya “mau lanjut studi di mana?” kamu tidak hanya menjawab, “‘tau, masih bingung.” Sehingga, ketika kamu sudah mencapai tahap itu, sudah tidak relevan lagi pertanyaan “saya mau mengerjakan apa, dan bekerja sebagai apa nanti.”

#6

 Enjoy becoming an observer!

Nikmati jadi pengamat! Kembali ke urusan asmara lagi. Mungkin kali ini kamu akan lebih suka menjadi pengamat dan bahkan menjadi konsultan asmara bagi adik-adik remaja yang lebih yunior, ketimbang ribet termehek-mehek memikirkan urusan hubungan pribadimu sendiri.

Dengan pengalaman-pengalaman, kesadaran akan jatidiri, sense of self-accomplishment, sampai determinasi pada tujuan, sudut pandang kamu menjadi jauh lebih luas luas. Kamu bisa melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas sehingga lebih luas peluang untuk menemukan solusi-solusi.
Dalam hal begini, mungkin pula kamu pun mulai suka menggoda ‘klien asmara’-mu dengan tantangan dan PR-PR tertenu sambil berkata antara bijak dan setengah somse “Ah, masalah itu belum seberapa. Tenang saja, badai pasti berlalu.” Coba saja, buktikan sendiri. 

#7

 Your quality worths your desired excellent relationship.

Kualitasmu membuat kamu berhak atas hubungan yang hebat. Sampai di titik ini, kamu sudah punya bekal kehidupan (life skills) yang lebih dari sekadar angka-angka dalam ijazah. Tantangan akan terus ada dan terus meningkat seiring dengan peningkatan standar kalian dalam hal sasaran dan tujuan, karena memang seperti itulah hakikat kehidupan.

Kata Mbah Einstein, hidup itu seperti naik sepeda di jalan menanjak. Berhenti kamu mengayuh pedal, sepeda kehilangan keseimbangan untuk berdiri. Hanya ada satu pilihan: terus mengayuh, terus menghadapi tantangan demi tantangan baru. Berhenti berarti terdorong ke belakang.
Nah, dalam urusan asmara, dengan kualitas yang kamu miliki hubungan yang kamu jalin berbasis kualitas kehidupan. Ini bukan semata-mata menyangkut hal-hal yang bersifat material atau finansial. Tidak. Jauh lebih penting, kualitas ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan mental sesuai dengan kualitas dirimu, seperti soal pemahaman, pola pikir, sikap kematangan, sikap saling menghargai, kemampuan mencari solusi atas permasalahan dan lain-lain. Itu jauh lebih berharga.
Pada tingkat inilah, kamu bisa mencerna dengan pengertian yang jernih apa sesungguhnya arti istilah “cinta monyet”, karena kamu sudah bisa melihat cinta yang bukan produk “monyet”.

#8

 There is a borderless horizon of choice.

Ada horizon pilihan tanpa batas. Sorry, perlu diperjelas lebih dulu. Ini tidak berarti kamu punya kebebasan untuk punya banyak pasangan. Ampun, deh. Jodoh tetap hanya satu saja, ya. Tapi, dalam proses mencapai keputusan berjodoh, kamu berada dalam sebuah horizon yang begitu luas tanpa penghalang pandangan, dengan ketenangan berlimpah dalam menghadap berbagai kemungkinan. Di sini ada makna yang lebih otentik dari kata “dunia tak selebar daun kelor.”


Sekali lagi, dengan pengalaman, kesadaran akan jatidiri, sense of self-accomplishment, sampai determinasi pada tujuan, pilihan kamu lebih rasional ketimbang emosional. Tidak pernah takluk pada pukulan yang hendak menindas emosi, yang kalau di masa awal remaja serasa langit runtuh, hancur lebur. Kali ini, kamu bisa melihat setiap kemungkinan dengan berbagai konsekuensi logisnya, dan setiap kemungkinan menjadi terlihat sebagai kewajaran. Biasa saja.

#9

 When the day comes, you are in the good position.

Foto: FIXABAY

Ketika harinya tiba, kamu berada dalam posisi yang baik. Ya, suatu saat nanti, ketika tiba saatnya bagi kamu untuk benar-benar jadian, jadian yang benar-benar, kamu berada dalam keadaan yang baik dan menguntungkan. Ingat, ya, ini bukan dalam arti kamu dalam posisi lebih berkuasa pada pasangan yang kamu pilih. Sama sekali bukan. Ini berarti, pasangan yang kamu pilih adalah pasangan seiring dalam menjalankan peran kehidupan bersama. Ia menjadi pasangan memungkinkan kamu terus tumbuh menjadi semakin bermanfaat dan semakin bermanfaat bagi diri, keluarga dan orang lain. Karena, orang yang paling mulia itu orang yang paling manfaatnya bagi manusia.

OK, rehat, sebelum poin terakhir yang paling penting dari 10 Prinsip Asmara Remaja Rasional.


#10

Really? You still want someone in the past desperately?

Or, perhaps, you have forgetten her/him by and by?


Bener, nih, kamu masih terlunta-lunta mendamba si dia yang dulu? Atau, mungkin, kamu hanya ingat lamat-lamat namanya? Kayaknya pernah kenal di mana gitu, deh. Begitulah kira-kira kelak situasi pikiran pemuda/pemudi yang fokus pada pengembangan bekal kehidupan pribadi. Daya nalar kritis dan kematangan emosional membuatnya mudah menghadapi situasi apapun.





*******
TAMAT

No comments:

Post a Comment